Rabu, 27 Agustus 2014

Pesona Keindahan Pantai dan Lumba-lumbanya

Pantai Cahaya Kendal. (irzal)
Lumba-lumba dikenal sebagai mamalia laut yang cerdas dan menggemaskan. Itulah alasan lumba-lumba menjadi ikon dunia bawah air. Namun, Anda tak perlu pergi ke lautan lepas untuk menemuinya, karena di Kendal ada wisata pantai yang yang memiliki penangkaran lumba-lumba.

          Kendal tak hanya berupa pegunungan, tapi juga memiliki garis pantai di bagian utara. Garis pantai di Kendal masih alami, hingga memunculkan objek wisata yang ramai dikunjungi warga tiap akhir pekan. Pantai Cahaya menjadi salah satu di antaranya, objek wisata alam yang dekat dengan permukiman warga dengan hamparan kebun dan sawah warga.

          Bila wisata pantai identik dengan panas, maka itu tidak berlaku di Pantai Cahaya. Ada banyak pohon rimbun di sepanjang pantai, yang menimbulkan kesan rindang. Pepohonan ini sengaja dirawat pengelola pantai, hingga kerindangan itu menjadi kekhasan Pantai Cahaya. Pengelola sengaja menerapkan peraturan yang mengharuskan pengunjung dan karyawan untuk menjaga lingkungan sekitar objek wisata tersebut, seperti dilarang membuang sampah di sembarang tempat, dan dilarang merusak tanaman.

          Ada banyak pantai di desa Sikucing, salah satunya Pantai Cahaya yang dikelola investor swasta yaitu The Sea. Dengan tiket Rp 10 ribu, pengunjung dapat menikmati pantai yang telah dilengkapi dengan berbagai wahana bermain anak seperti kereta api mini, kolam bola, perahu kano, dan ATV. Arsitektur bangunannya yang menarik dan berwarna cerah, menurut pengelolanya itu di desain oleh pegawai-pegawai mereka sendiri.

         Pantai Cahaya memiliki beberapa wahana  berupa kumpulan Water King, Mini Zoo, dan pertunjukan lumba-lumba. Setiap pengunjung yang ingin fasilitas itu, harus membeli tiket seharga Rp 25 ribu per wahana. Selain wahana tersebut, di sana terdapat pertunjukan dan penangkaran lumba-lumba.

Lumba-lumba yang ada di penangkaran Pantai Cahaya, Kendal. (irzal)

Penangkaran Lumba-lumba
Lumba-lumba banyak terdapat di lautan Indonesia, terutama Laut Jawa yang bersentuhan langsung dengan Kabupaten Kendal. Lumba-lumba merupakan mamalia cerdas dan memiliki daya adaptasi yang tinggi, sehingga mudah dipelihara dan dilatih untuk bersahabat dengan manusia. Hanya dengan sedikit interaksi, lumba-lumba akan akrab dengan manusia.

         Penangkaran The Sea memiliki koleksi lumba-lumba yang bisa ditonton pengunjung saat pertunjukan. Memasuki tempat pertunjukan ini, pengunjung akan disambut empat lumba-lumba bernama Brahma, Kumbara, Roban, dan Robin yang beratraksi di kolam. Mereka berenang dan melompat hingga beberapa meter di atas permukaan air.

         Lumba-lumba di penangkaran ini biasa beratraksi bersama kakak tua, anjing laut, dan simpanse. Pertunjukan lumba-lumba ini digelar di gedung yang mampu menampung 800 penonton dengan durasi satu jam. Pertunjukan ini digelar empat kali sehari pada pukul 09.00, 11.00, 13.00, dan 15.00 WIB.

        Lumba-lumba jenis hidung botol ini diperoleh langsung dari Laut Jawa. Seperti peraturan dari balai konservasi, lumba-lumba yang di ambil dari alam harus berkisar delapan sampai sembilan tahun. Penangkaran ini telah mengantongi izin konservasi dari pemerintah dan Kepala Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam setempat. Meski setiap pengunjung dapat menyaksikan pertunjukan lumba-lumba, tak sembarang orang boleh masuk di penangkaran. Dikarnakan untuk menjaga keamanan dan ketertiban penangkaran, ujar salah satu humas disana.

      Penangkaran di Pantai Cahaya ini merawat dan mengembangbiakan 25 ekor lumba-lumba. Disana mereka dikembang biakan dan diberi makan tiga kali sehari menggunakan ikan-ikan kecil dari laut, karena fokus dari konservasi di penangkaran ini ialah perkembang biakan. Walaupun pemberian makan tiga kali sehari, pada malam hari mereka diberi makanan ringan yang tidak sebanyak makanan pokok mereka. Ini dikarenakan untuk menyesuaikan siklus makan mereka di alam yang terbiasa mencari cemilan dikala malam hari, diluar jadwal makan pokok mereka. Pengelola menjelaskan, pemberian pakan disini disesuaikan dengan berat dan besar lumba-lumba. Porsi makan lumba-lumba diambil dari delapan persen berat tubuhnya, itu untuk lumba-lumba konservasi biasa. Untuk yang spesialis show, pengelola memberi makan sebanyak sepuluh persen dari berat tubuhnya.

       Menurut pengelola penangkaran, lumba-lumba merupakan mahluk yang sudah bersahabat dengan manusia sejak mereka di alam. Jadi tidak ada yang namanya luma-lumba liar, ujarnya. Alur dari konservasi disini, lumba-lumba yang baru ditemukan harus masuk tahapan karantina selama tiga bulan. Disana ia akan diidentifikasi menurut usia, apakah mempunyai cacat, dan biasanya mereka yang ditemukan terdampar mengalami kondisi psikis yang buruk, maka perlu pemuluhan dalam tahap ini. Ada lima kolam yang digunakan untuk konservasi ini, fungsinya untuk mengelompokan lumba-lumba sesuai kateori umur dan satu kolam khusus untuk pemulihan jika ada yang sakit atau untuk masa karantina petama.

        Lumba-lumba disini memiliki umur 8 tahun untuk yang paling muda dan 21 tahun untuk indukan yang paling tua. Lumba-lumba disini dirawat oleh tenaga ahli yang professional dalam hal mamalia tersebut, mayoritas berasal dari penangkaran luma-lumba di Ancol yang telah memiliki pengalaman puluhan tahun disana.

       Pengangkaran yang dimulai sejak 1997 ini juga memiliki fasilitas terapi lumba-lumba untuk penderita autis. Menurut pegawai penangkaran, lumba-lumba jenis ini mampu membantu terapi beberapa jenis penyakit, terutama gangguan fungsi syaraf motorik seperti autis, stroke, down syndrom, atau depresi berat.

       Adi selaku staf disana mengatakan, lumba-lumba akan mengirim serangkaian sinyal ultrasonik untuk mendeteksi keberadaan benda di sekitarnya. Pada tubuh lumba-lumba terkandung potensi yang bisa menyelaraskan kerja syaraf motorik dan sensorik penderita autis. Kemampuan gelombang sonar yang dimiliki lumba-lumba dapat merangsang otak manusia untuk memproduksi energi pada tulang tengkorak, dada, dan tulang belakang pasien. Inilah yang membentuk keseimbangan antara otak kanan dan kiri. Lumba-lumba juga mampu melakukan terapi melalui totokan, gigitan halus, dan kibasan tubuh.

        Sudah banyak sekali penderita autis yang melakukan terapi di penangkaran ini, bahkan dari luar kota. “Banyak penderita yang datang kesini berasal dari luar kota, karena di Indonesia baru dua yang memiliki terapi lumba-lumba ini, kita dan di Ancol”

       Pengunjung yang datang kesini ramai di akhir pekan, bisa mencapai 300 orang, dan jika ada perayaan hari libur panjang pengunjung dapat mencapai 900 orang seharinya. Sayangnya saat hari-hari biasa sangat sepi pengunjung. Lumba-lumba pun tidak melakukan pertunjukan jika pengunjung sepi. Pengelola mengatakan syarat untuk penyaksikan pertunjukan harus lebih dari lima orang yang ingin menonton pertunjukan tersebut, dengan membayar Rp 15.000 per orangnya.

       Fikri, salah satu pengunjung, mengeluhkan akses jalan menuju tempat wisata ini merupakan medan yang sulit ditempuh. Tidak hanya itu, tempat atraksi lumba-lumbanya terasa kurang nyaman, “tempat atraksi lumba-lumbanya menurut saya terasa pengap, dan sedikit kumuh. Mungkin perlu renovasi, namun tempat wisata ini selebihnya sudah bagus dan nyaman,” kata fikri.

        Pantai Cahaya berada di Desa Sendang Sekucing, Kecamatan Rowosari, Kabupaten Kendal. Dari Weleri, pengunjung harus melanjutkan perjalanan sekitar 30 menit lagi menuju Rowosari.

        Kebersihan pantai yang terjaga ini tidak lepas dari peran pengelola yang mempekerjakan banyak karyawan menjadi tim kebersihan yang mayoritas berasal dari desa Sendang Sekucing sendiri. Pengelola pun membuat peraturan kebersihan lingkungan untuk karyawan-karyawan mereka. Uniknya, tidak ada petugas kebersihan yang secara khusus ditugaskan untuk membersihkan wilayah wisata ini, melainkan semua karyawan yang bekerja memiliki tanggung jawab untuk membersihkan.
Dari historisnya pantai ini pada zaman pemberontakan PKI sebagian wilayahnya merupakan tempat pembuangan mayat korban keganasan komunis pada masa itu. Namun sejarah angkernya tadi seakan musnah begitu melihat pemandangan pantai yang terbentang di depan mata kami.

       
Ayam kalkun, salah satu hewan yang ada di mini zoo. (irzal)
J
ika ingin melanjutkan ke setiap wahana kita harus membeli tiket lagi. Wahana yang pertama adalah Water King. Walaupun harus membeli tiket sebesar Rp 25.000/orang, kita bisa langsung menikmati kolam anak-anak, kolam dewasa, dan yang paling membuat penasaran, kolam ajaib atau kolam mati. Disana kita bisa berenang dengan mengapung atau relaksasi tanpa takut tenggelam, ini dikarenakan kolam tersebut mengandung kadar garam yang sangat banyak. Menurut Anton, dari pihak Humas, sebanyak 45 ton garam dimasukan dengan perbandingan air yang pas ke dalam kolam tersebut, jadi seberat apapun kita tidak akan tenggelam menurutnya. Tepat di atas Water King terdapat balkon tempat untuk melihat sunset dan sunrise. Tempat ini sangat unik karena kita bisa melihat sun rise dan sunset dalam satu tempat. Dari sana kita ke Mini Zoo, terdapat binatang-binatang yang beberapa merupakan satwa langka untuk penelitian dalam bentuk opset seperti penyu raksasa, beruang, kucing laut, dan simpanse.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar