| Pantai Cahaya Kendal. (irzal) |
Kendal tak hanya berupa pegunungan, tapi juga memiliki
garis pantai di bagian utara. Garis pantai di Kendal masih alami, hingga memunculkan
objek wisata yang ramai dikunjungi warga tiap akhir pekan. Pantai Cahaya
menjadi salah satu di antaranya, objek wisata alam yang dekat dengan permukiman warga dengan hamparan kebun
dan sawah warga.
Bila wisata pantai identik dengan panas, maka itu tidak
berlaku di Pantai Cahaya. Ada banyak pohon rimbun di sepanjang pantai, yang
menimbulkan kesan rindang. Pepohonan ini sengaja dirawat pengelola pantai,
hingga kerindangan itu menjadi kekhasan Pantai Cahaya.
Pengelola sengaja menerapkan peraturan yang mengharuskan pengunjung dan
karyawan untuk menjaga lingkungan sekitar objek wisata tersebut, seperti
dilarang membuang sampah di sembarang tempat, dan dilarang merusak tanaman.
Ada banyak pantai di desa
Sikucing, salah satunya Pantai
Cahaya
yang dikelola investor swasta
yaitu The Sea. Dengan tiket Rp 10
ribu, pengunjung dapat menikmati pantai yang telah dilengkapi dengan berbagai
wahana bermain anak seperti kereta api mini, kolam bola, perahu kano, dan ATV.
Arsitektur bangunannya yang menarik dan berwarna cerah,
menurut pengelolanya itu di desain oleh pegawai-pegawai mereka sendiri.
Pantai Cahaya memiliki beberapa wahana berupa kumpulan Water King, Mini Zoo, dan pertunjukan lumba-lumba. Setiap pengunjung yang ingin fasilitas itu,
harus membeli tiket seharga Rp 25 ribu per wahana. Selain
wahana tersebut, di sana terdapat pertunjukan dan penangkaran lumba-lumba.
| Lumba-lumba yang ada di penangkaran Pantai Cahaya, Kendal. (irzal) |
Penangkaran Lumba-lumba
Lumba-lumba banyak terdapat di lautan Indonesia, terutama
Laut Jawa yang bersentuhan langsung dengan Kabupaten Kendal. Lumba-lumba
merupakan mamalia cerdas dan
memiliki daya adaptasi yang tinggi, sehingga mudah dipelihara dan dilatih untuk
bersahabat dengan manusia. Hanya dengan sedikit interaksi, lumba-lumba akan akrab dengan
manusia.
Penangkaran The Sea memiliki koleksi lumba-lumba yang
bisa ditonton pengunjung saat pertunjukan. Memasuki tempat
pertunjukan ini, pengunjung
akan disambut empat lumba-lumba bernama Brahma, Kumbara, Roban, dan Robin yang
beratraksi di kolam. Mereka berenang dan melompat hingga beberapa meter di atas
permukaan air.
Lumba-lumba di penangkaran ini biasa beratraksi bersama kakak tua, anjing laut, dan
simpanse. Pertunjukan lumba-lumba ini digelar di gedung yang mampu menampung
800 penonton dengan durasi satu jam. Pertunjukan ini digelar empat kali sehari
pada pukul 09.00, 11.00, 13.00, dan 15.00 WIB.
Lumba-lumba jenis hidung botol ini diperoleh langsung
dari Laut Jawa. Seperti peraturan dari balai konservasi,
lumba-lumba yang di ambil dari alam harus berkisar delapan sampai sembilan
tahun. Penangkaran ini
telah mengantongi izin konservasi dari pemerintah dan Kepala
Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam setempat. Meski setiap pengunjung dapat menyaksikan pertunjukan
lumba-lumba, tak sembarang orang boleh masuk di penangkaran.
Dikarnakan untuk menjaga keamanan dan ketertiban penangkaran, ujar salah satu
humas disana.
Penangkaran
di Pantai Cahaya ini merawat dan mengembangbiakan 25 ekor lumba-lumba. Disana
mereka dikembang biakan dan diberi makan tiga kali sehari menggunakan ikan-ikan
kecil dari laut, karena fokus dari konservasi di penangkaran ini ialah
perkembang biakan. Walaupun pemberian makan tiga kali sehari, pada malam hari
mereka diberi makanan ringan yang tidak sebanyak makanan pokok mereka. Ini
dikarenakan untuk menyesuaikan siklus makan mereka di alam yang terbiasa
mencari cemilan dikala malam hari, diluar jadwal makan pokok mereka. Pengelola
menjelaskan, pemberian pakan disini disesuaikan dengan berat dan besar
lumba-lumba. Porsi makan lumba-lumba diambil dari delapan persen berat
tubuhnya, itu untuk lumba-lumba konservasi biasa. Untuk yang spesialis show, pengelola memberi makan sebanyak
sepuluh persen dari berat tubuhnya.
Menurut
pengelola penangkaran, lumba-lumba merupakan mahluk yang sudah bersahabat
dengan manusia sejak mereka di alam. Jadi tidak ada yang namanya luma-lumba
liar, ujarnya. Alur dari konservasi disini, lumba-lumba yang baru ditemukan
harus masuk tahapan karantina selama tiga bulan. Disana ia akan diidentifikasi
menurut usia, apakah mempunyai cacat, dan biasanya mereka yang ditemukan
terdampar mengalami kondisi psikis yang buruk, maka perlu pemuluhan dalam tahap
ini. Ada lima kolam yang digunakan untuk konservasi ini, fungsinya untuk
mengelompokan lumba-lumba sesuai kateori umur dan satu kolam khusus untuk
pemulihan jika ada yang sakit atau untuk masa karantina petama.
Lumba-lumba
disini memiliki umur 8 tahun untuk yang paling muda dan 21 tahun untuk indukan
yang paling tua. Lumba-lumba disini dirawat oleh tenaga ahli yang professional
dalam hal mamalia tersebut, mayoritas berasal dari penangkaran luma-lumba di
Ancol yang telah memiliki pengalaman puluhan tahun disana.
Pengangkaran yang dimulai sejak 1997
ini juga memiliki fasilitas terapi
lumba-lumba untuk penderita autis. Menurut pegawai penangkaran, lumba-lumba jenis ini mampu
membantu terapi beberapa jenis penyakit, terutama gangguan fungsi syaraf
motorik seperti autis, stroke, down
syndrom, atau depresi berat.
Adi selaku staf disana mengatakan, lumba-lumba akan mengirim serangkaian sinyal
ultrasonik untuk mendeteksi keberadaan benda di sekitarnya. Pada tubuh
lumba-lumba terkandung potensi yang bisa menyelaraskan kerja syaraf motorik dan
sensorik penderita autis. Kemampuan gelombang sonar yang dimiliki lumba-lumba
dapat merangsang otak manusia untuk memproduksi energi pada tulang tengkorak,
dada, dan tulang belakang pasien. Inilah yang membentuk keseimbangan antara
otak kanan dan kiri. Lumba-lumba juga mampu melakukan terapi melalui totokan,
gigitan halus, dan kibasan tubuh.
Sudah banyak sekali penderita autis yang melakukan terapi di
penangkaran ini, bahkan dari luar kota. “Banyak penderita yang
datang kesini berasal dari luar kota, karena di Indonesia baru dua yang
memiliki terapi lumba-lumba ini, kita dan di Ancol”
Pengunjung
yang datang kesini ramai di akhir pekan, bisa mencapai 300 orang, dan jika ada
perayaan hari libur panjang pengunjung dapat mencapai 900 orang seharinya.
Sayangnya saat hari-hari biasa sangat sepi pengunjung. Lumba-lumba pun tidak
melakukan pertunjukan jika pengunjung sepi. Pengelola mengatakan syarat untuk
penyaksikan pertunjukan harus lebih dari lima orang yang ingin menonton
pertunjukan tersebut, dengan membayar Rp 15.000 per orangnya.
Fikri,
salah satu pengunjung, mengeluhkan akses jalan menuju tempat wisata ini
merupakan medan yang sulit ditempuh. Tidak hanya itu, tempat atraksi
lumba-lumbanya terasa kurang nyaman, “tempat atraksi lumba-lumbanya menurut
saya terasa pengap, dan sedikit kumuh. Mungkin perlu renovasi, namun tempat
wisata ini selebihnya sudah bagus dan nyaman,” kata fikri.
Pantai Cahaya berada di Desa Sendang Sekucing, Kecamatan
Rowosari, Kabupaten Kendal. Dari Weleri, pengunjung harus melanjutkan
perjalanan sekitar 30 menit lagi menuju Rowosari.
Kebersihan pantai yang terjaga ini tidak lepas dari peran
pengelola yang mempekerjakan banyak karyawan menjadi tim kebersihan yang
mayoritas berasal dari desa Sendang Sekucing sendiri. Pengelola pun membuat
peraturan kebersihan lingkungan untuk karyawan-karyawan mereka. Uniknya, tidak
ada petugas kebersihan yang secara khusus ditugaskan untuk membersihkan wilayah
wisata ini, melainkan semua karyawan yang bekerja memiliki tanggung jawab untuk
membersihkan.
Dari historisnya pantai ini pada zaman pemberontakan PKI
sebagian wilayahnya merupakan tempat pembuangan mayat korban keganasan komunis
pada masa itu. Namun sejarah angkernya tadi seakan musnah begitu melihat
pemandangan pantai yang terbentang di depan mata kami.
| Ayam kalkun, salah satu hewan yang ada di mini zoo. (irzal) |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar