![]() |
| Warak saat Upacara Adat Dugderan, Semaang. (dokumen istimewa) |
Selain masyarakat Semarang, banyak juga suku-suku pendatang lain dari Indonesia maupun dari luar negeri. Suku dan etnis tersebut melebur di kota lumpia ini, dan menghasilkan beberpa akulturasi budaya dominan dari berbagai suku dan etnis tersebut. Beberapa budaya dominan yang terdapat di Semarang ialah, budaya Jawa, Tionghoa, Arab, dan budaya lokal lainnya. Tidak heran jika sedikit sulit untuk menemukan kebudayaan yang benar-benar asli kota ini, tidak seperti kota Solo dan Yogyakarta yang masih kental dengan budaya asli Jawanya.
Namun justru itulah keunggulan kota Semarang, pluralitas dan keberagaman tidak hanya tercermin dari masyarakatnya, namun meluas hingga tradisi dan budayanya. Salah satu simbol keberagaman dari kota ini ialah Warak Ngendog. Warak Ngendog ialah binatang rekaan yang menjadi ikon identitas kebudayaan kota Semarang, bentuknya menyerupai gabungan beberapa binatang. Ikon kebudayaan Semarang ini sudah ada dan terkenal sejak zaman kolonial belanda, yang selalu hadir dalam acara kebudayaan seperti kirab budaya Semarang, pameran budaya, dan dugderan menyambut bulan suci Ramadhan.
Banyak arti filosofis
![]() |
| Warak saat Upacara Adat Dugderan, Semaang. (dokumen istimewa) |
Banyak arti filosofis dari binatang ini, yang menggambarkan kehidupan dan kebudayaan kota Semarang. Dari bentuknya merupakan penggabungan dari tiga binatang khas, yaitu Cina, Arab, dan jawa. Cina digambarkan dalam kepala Warak Ngendog yang berbentuk naga, berleher panjang yang mewakili masyarakat tionghoa yang hidup berbaur di Semarang. Tubuhnya yang seperti buraq dan bulu-bulunya yang keriting, mewakili kebudayaan arab yang tumbuh berkembang juga di Semarang. Buraq merupakan binatang ikon dari arab yang konon dipakai oleh Nabi Muhammad SAW sewaktu hijrah. Terakhir, warak ini berkaki empat dan bentuk kakinya seperti kambing yang melambangkan kebudayaan jawa, asli daerah Semarang.
Nama Warak Ngendog diambil dari beberapa bahasa juga. Terdiri dari kata “Wara’I” yang berarti suci dan Ngendog berarti bertelur. Nama itu yang menyebabkan posisi Warak selalu di dekatkan dengan telur putih di bawahnya. Dimana ada patung Wrak dibawah dekat kaki depannya ada telur putih yang menggambarkan arti dari namanya.
Warak ngendog diarak keliling kota Semarang ketika umat Islam sedang melaksanakan ibadah puasa. Bentuknya yang menyerupai binatang ini konon menggambarkan hawa nafsu manusia. Sisik, taring dan mulut yang menganga dalam diri warak ngendog diartikan seperti hawa nafsu yang harus dilawan manusia yang menjalankan ibadah puasa. Jika dimaknai dalam bahasa Arab, Warak Nendog terdiri dari kata “waro'a” artinya sebuah usaha kuat untuk melawan atau menjauhi hawa nafsu. Maka digambarkan sebuah binatang dengan kaki, tubuh dan ekor yang tegang karena berusaha melawan nafsunya. Sedangkan ngendok, artinya, jika manusia sudah bisa menahan hawa nafsu atau mengendalikan diri, maka akan menghasilkan atau mendapatkan ridha dari Allah Swt. Lebih singkatnya, Warak Ngendog diartikan sebagai simbol bagi orang yang menjaga kesuciannya di bulan puasa, maka akan mendapatkan balasan pahala pada hari lebaran nanti.
Warak Ngendog merupakan pemersatu dan gabungan etnis kota Semarang, memiliki filosofi yang menggambarkan kerukunan, pluralitas, dan kemakmuran masyarakat Semarang. Sama seperti kegiatan Pimnas yang kali ini digelar di salah satu universitas negeri di Semarang, terdiri dari ratusan peserta dan berasal dari berbagai daerah di Indonesia. Harapannya akan meningkatkan kebersamaan dan pluralitas dari keberagaman di Indonesia. Bersatu membangun negeri dari berbagai disiplin ilmu, lewat kegiatan akademik membangun kerukunan dan kemakmuran Indonesia. (Irzal, dikutip dari berbagai sumber)


Tidak ada komentar:
Posting Komentar