Kamis, 07 Januari 2016

Dari Bandung, Untuk Indonesia, Hingga Menginspirasi Dunia

Biodata
· Nama   : Mochammad Ridwan Kamil S.T. MUD
·  TTL       : Bandung, 4 Oktober 1971 (43)
·  Agama   : Islam
·  Almamater  :
University Of California (S2),
Institut Teknologi Bandung (S1)
·  Pekerjaan   : Arsitek, Dosen di ITB,
Walikota Bandung ke-24(Sekarang)
·  Istri       : Atalia Praratya Kamil
· Anak    : Camillia Laetitia Azzahra, Emmiril Khan Mumtadz

Emil, sapaan akrabnya. Tokoh masyarakat yang sangat dikenal di Indonesia ini khususnya di Bandung merupakan walikota ke-24 yang dimiliki kota kembang. Disebut-sebut sebagai salah pemimpin masa depan Indonesia, ia banyak merubah kota kembang dengan beberapa gebrakannya. Dari mulai grass root hingga reformasi birokrasinya. Perajanan hidupnya yang panjang, lika-liku kehidupannya menarik untuk diamati. Sempat hidup dan berkarir di berbagai Negara di dunia, membuatnya terbiasa dengan asam garam dan pahitnya kehidupan. Semua itu menjadikannya pemuda yang tangguh dan mangantarkan dirinya ke kota kelahiran untuk mengabdi. 

Background
      Pria yang lahir pada 4 Oktober 1971 di Bandung ini, berasal dari pasangan Dr. Atje Misbach SH (alm.) dan Dra. Tjutju Sukaesih. Ayahnya adalah Doktor Fakultas Hukum UNPAD sementara ibunya dosen farmasi UNISBA dan staff ahli LPPOM MUI Jabar. Ridwan Kamil asli orang Sunda. Darah Sunda itu berasal dari kedua orangtuanya. Ayahnya asli Subang dan ibu dari Tasikmalaya dan kedua kakeknya yang berasal dari Situ Bagendit Garut.

          Pendidikan masa kecilnya Emil sangat lekat dengan budaya sunda dan nilai keislaman. Ayahnya yang keturunan kiai Muhyidin yang dikenal sebagai pendiri tiga pesantren di Sumedang dan Subang, serta Pamannya KH Atang Abdul Quddus (alm), Imam Mesjid Agung Subang serta ketua MUI Kab Subang. Dia pun sempat menjadi santri di pesantren pagelaran III yg dipimpin oleh pamannya KH Oom Abdul Qoyyum (alm). Oleh karena itu, sejak kecil ia sangat diajarkan norma-norma, etika, dan moral.

          Kecintaanya terhadap Bandung dituangkan salah satunya dalam hal pendidikan. Emil, menempuh pendidikan dasar hingga kuliah di kota Bandung. Pendidikannya dimulai dengan belajar membaca, berhitung, di TK Aisyiah, Dago Barat Bandung. Kemudian selama 6 tahun bersekolah di SD Banjarsari III Jalan Merdeka Bandung. Pada masa-masa ini tak jarang Emil berjalan kaki dari Dago Timur ke jalan Merdeka. Sejuk dan asrinya Jalan Haji Juanda saat itu membuat jarak Dago Timur-Merdeka serasa dekat.

     SMPN 2 Bandung di Jl. Sumatra adalah tempatnya memulai berorganisasi. Selain belajar, dia aktif di OSIS dan Pramuka. Kegiatan ini tidak menghalanginya untuk menjadi bintang kelas, justru memberikan pengalaman dan pengetahuan yang menjadi bekal jiwa kepemimpinannya ketika dewasa. Pendidikan berlanjut di SMA 3 Bandung. Masa remajanya diisi dengan berbagai kegiatan olahraga, aktif di Paskibra. Dia selalu memotivasi dirinya untuk terus berprestasi. Ridwan Kamil kuliah di Institut Teknologi Bandung (ITB) jurusan arsitektur. Lalu berkat beasiswa ia bisa melanjutkan kuliah S2 di University of California, Amerika, dalam bidang tatakota, tahun 1999 sampai tahun 2001.

Perjalanan Hidup & Karir
Walaupun background keluarganya merupakan keluarga yang mampu dan berpendidikan tinggi, namun kehidupannya sejak kecil tetaplah sederhana. Ketika sekolah dasar ia berjualan es mambo buatannya sendiri. Selama bersekolah, ridwan Kamil dikenal sebagai sosok yang aktif dan cerdas, ia selalu masuk dalam rangking lima besar di kelasnya. Anak kedua dari lima bersaudara ini gemar membaca komik dan melihat foto dari berbagai kota di luar negeri.

        Keaktifannya terjaga hingga ia kuliah, Emil aktif dalam kelompok-kelompok mahasiswa dan unit kegiatan seni. Semangat kewirausahaannya di kampus lagi, untuk mencari dana tambahan untuk kuliah, ia membuat ilustrasi cat air atau maket untuk dosen. Di awal tahun 1995 ia mendapat cobaan besar, ketika harus menyelesaikan tugas akhir kuliahnya, pada saat itu juga ayah tercintanya meninggal dunia. Ini merupakan awal dari petualangan hidupnya yang menakjubkan. Berkat kegigihannya, duka tersebut dibakar menjadi semangat juang yang mengantarkannya lulus dari Arsitektur ITB.

    Petualangan besar baru dimulai, empat bulan setelah ia lulus, mencoba bekerja di Amerika Serikat, masih dalam keahliannya dibidang arsitektur bangunan. Keputusannya berhenti dikarenakan dampak krisis moneter Indonesia yang membuat klien tidak membayar pekerjaannya. Namun, ia tidak langsung pulang ke Indonesia, dia bertahan di Amerika sebelum akhirnya mendapat Beasiswa di University of California, Berkeley. Selagi mengambil S2 di Univesitas tersebut Ridwan Kamil bekerja paruh waktu di Departemen Perancanaan Kota Berkeley.

       Untuk bertahan hidup di Amerika, ia makan sekali sehari dengan menu murah seharga 99 sen. Perjuangan Ridwan Kamil untuk bertahan hidup di Amerika terus diuji ketika istrinya, Atalia Praratya akan melahirkan anak pertama mereka. Ayah yang kini memiliki dua orang anak ini tidak memiliki uang untuk biaya persalinan istrinya, sehingga akhirnya dia harus mengaku miskin pada pemerintah kota setempat untuk mendapatkan Pengobatan gratis.

      Masa-masa itupun bisa ia lalui berkat kegigihannya, sampai ia mendapat kehidupan yang sangat layak disana. Namun untungnya pada saat itu masih ada sosok Ibu yang senantiasa menasehatinya untuk ingat jalan hidup dan ajaran-ajarannya selama ia kecil. Sang ibu menasihati, “Ari neangan duitmah engke aya gantina, ari minterkeun batur tidak akan terukur nilaina” (kalau mencari uang itu nanti bisa ada gantinya, kalau memintarkan orang lain tidak terukur nilainya).

        Akhirnya pada tahun 2002 Emil pulang ke tanah kelahirannya Indonesia dan dua tahun kemudian mendirikan Urbane, firma yang bergerak dalam bidang jasa konsultan perencanaan, arsitektur dan desain. Reputasi Internasional sudah mereka bangun dengan mengerjakan projek-projek di luar Indonesia seperti Syria Al-Noor Ecopolis di negara Syria dan Suzhou Financial District di China. Rancangan masjid Al-Irsyad yang ia persembahkan untuk almarhum ayahnya, diganjar Top 5 Best Building of The Year 2010 oleh ArchDaily, dan menjadi satu dari 25 masjid terindah di dunia versi Complex Magazine.

       Emil sudah menjelajahi 100 Kota dunia. Mengamati, mempelajari bagaimana manusia di berbagai belahan dunia membangun peradaban, merancang dan memelihara kota. Bahkan Ridwan Kamil terlibat dalam menata ulang sejumlah kota di Indonesia dan mancanegara. Karya-karyanya telah dihargai dunia. Kini mari beri kesempatan Ridwan Kamil untuk mengabdikan jiwa dan ilmunya bagi tanah kelahirannya tercinta.

       Sekarang, ia beserta istri, Atalia Praratya, ditemani dua buah hatinya, tinggal di sebuah rumah yang unik hasil rancangannya sendiri. Ventilasi rumah ini terbuat dari tiga puluh ribu botol Kratingdaeng. Ridwan Kamil ingin membuktikan bahwa sampah bisa disulap menjadi indah. Rumah tersebut berada di Cigadung tidak jauh dari rumah ibunya, sengaja demikian agar Ridwan Kamil bisa tetap berbakti pada ibunya sampai akhir hayat. (Irzal, diolah dari berbagai sumber)


Thanks to referensi :
http://www.tokohtokoh.com/ridwan-kamil.html pada 17 November 2014 pukul 00.50
http://id.wikipedia.org/wiki/Ridwan_Kamil pada 17 November 2014 pukul 01.20
http://profile.metrotvnews.com/read/119/ridwan-kamil pada 17 November 2014 pukul 01.00
http://jejakridwankamil.wordpress.com/category/award/ pada 17 November 2014 pukul 01.00
Yogi Pranata, Anugrah dikutip di http://profil.merdeka.com/indonesia/r/ridwan-kamil/ pada 17 November 2014 pukul 00.50

Tidak ada komentar:

Posting Komentar